Latest Post
Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan
17.49
Dasar Pendidikan Agama
Written By RUMAH PENDIDIKAN on Jumat, 03 Februari 2012 | 17.49
Semua aktifitas manusia pada prinsipnya harus mempunyai dasar karena tanpa dasar semua usaha yang dilakukan akan sukar diyakinkan. Pendidikan sebagai katifitas dalam membentuk pribadi manusia menuju perubahan yang lebih maju, sudah semestinya memiliki dasar yang kuat dan orientasi yang jelas, maka kedudukannya pun akan mantap. Dasar atau fundamen dalam ilmu arsitektur berarti bagian dari bangunan yang menjadi sumber kekuatan dan diletakkannya bagian-bagian bangunan yang lain sehingga kuat dan kokohnya suatu bangunan dipengaruhi oleh kuatnya suatu bangunan dipengaruhi oleh kuatnya pondasi tersebut. Kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka Al-Qur'an dan Hadits merupakan pundamennya.[1]
Dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam harus merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan pada aktivitas-aktivitas yang dicita-citakan. Nilai yang terkandung harus mencerminkan nilai universal yang dapat diasumsikan untuk keseluruhan kehidupan manusia, serta merupakan standar nilai yang dapat mengevaluasi aktivitas pendidikan. Dasar yang penulis maksud adalah yang mengatur secara langsung tentang perlunya pendidikannya agama bagi manusia. Adapun dasar tersebut ditinjau dari segi.
A. Aspel Yuridis
Yang dimaksud dengan dasar yuidis dalam pelaksanaan pendidikan agama berasal dari perundang-undangan yang secara tidak langsung dapat menja dipegangan dalam melaksanakan pendidikan agama baik di sekolah maupun diluar sekolah.secara yuridis/hukum, sila pertama Pancasila sebagai falsafah negara di sila pertama ”Ketuhanan Yang Maha Esa, kemudian dalam UUD 1945 pada bab XI pasal 29 ayat 2, yang berbunyi: 1) Negara menjamin berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa. 2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan itu”.
Berdasarkan bunyi dari pada UUD tersebut, mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus beragama. Oleh sebab itu, supaya umat agama tersebut dapat menunaikan ibadah sesuai dengan agamannya masing-masing, maka diperlukan adanya pendidikan agama. Dan pendidikan agama bagi anak-anak sangat diperlukan, karena tanpa adanya pendidikan agama, akan kesulitun mewujudkan sila pertama dari pancasila tersebut.
B. Religius
Aspek religius adalah ajaran yang bersumber dari ajaran Islam.[2] Yaitu Al-Qur'an dan sunnah yang merupakan nilai-nilai ilahiyah untuk dilaksanakan oleh muslim. Karenanya merupakan standar atau nilai yang memberikan motivasi dan bimbingan bagi manusia dalam perilaku sosialnya.[3] Dalam Al-Qur'an dan hadits yang menunjukkan perintah tersebut antara lain Qur’an dan hadits yang menunjukkan perintah tersebut antara lain : al-Qur’an surat An-Nahl ayat 25 yang berbunyi:
ุงุฏْุนُ ุฅَِูู ุณَุจِِูู ุฑَุจَِّู ุจِุงْูุญِْูู
َุฉِ َูุงْูู
َْูุนِุธَุฉِ ุงْูุญَุณََูุฉِ َูุฌَุงุฏُِْููู
ْ ุจِุงَّูุชِู َِูู ุฃَุญْุณَُู
) ุงููุญู (
Artinya: ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikkmah dan pelajaran yang baik dan banyaklah mereka dengan cara yang baik”[4]
Ayat ini dipahami oleh sementara ulama sebagai menjelaskan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan mau’izhah yakni dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan terhadap ahli kitab dan penganut agama-agama lain diperintahkan adalah jadwal/perdebatan dengan cara yang baik yaitu logika dan retorika yang halus, lepas dari kecerdasan dan umpatan.[5]
Selain itu juga hadits Nabi yang berbunyi:
ุฎุฏุซูุง ุนูุฏุงู ุงุฎุจุฑูุงุนุจุฏุงููู ุงุฎุจุฑูุง ูููุณ ุนู ุงูุฒูุฑู ูุงู ุฃุฎุจุฑูู ุฃุจูุณูู
ู ุจู ุนุจุฏ ุงูุฑุญู
ู ุฃู ุฃุจุงูุฑูุฑุฉ ุฑุถ ุงููู ุนูู ูุงู : ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ู
ุงู
ู ู
ูููุฏุฅูุงูููุฏ ุนูู ุงููุทุฑุฉ ูุฃููุงู ูููุฏุงูู ุงูููุตุจุฑุงูู ููู
ุฌุณุงูู ....
(ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู)
Artinya: ”Dari Abu Hurairah r.a. Sesungguhnya dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda Tidaklah dilahirkan seorang anak kecuali dalam keadaan fitrah (suci) maka bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.(H.R. Bukhari)[6]
Ayat dan hadits tersebut di atas memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam ajaran Islam memang ada perintah untuk mendidik agama, baik pada keluargannya maupun kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya.
C. Aspek Psikologis
Aspek psikologis adalah dasar yang memberikan informasi tentang bakat, minat, watak, karakter, motivasi dan inovasi peserta didik, pendidik, tenaga administrasi, serta sumber daya manusia yang lain.[7] Sehingga dengan dasar ini seorang bida mengetahui tingkat kepuasan dan kesejahteraan batiniah pelaku pendidikan, agar mereka mampu meningkatkan prestasi dan kompetensi dengan cara yang baik dan sehat.
Setiap manusia memerlukan pegangan hidup. Hal ini karena pada dasarnya dalam diri manusia sudah ada potensi keagamaan, yaitu berupadorongan untuk mengabdi kepada sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuasaan yang lebih tinggi.[8] Potensi ini akan mendorong manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, itulah sebabnyabagi orang muslim diperlukan adanya pendidikan agama agar dapat mengarahkan fitrah mereka dengan benar, sehingga mereka dapat hidup dan mengabdi kepada Allah sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam ajaran Islam.
Tujuan Pendidikan Keagamaan
Masalah tujuan pendidikan sangat penting karena tujuan pendidikan memberi arah kepada arah pendidikan yaitu usaha-usaha pendidikan dengan sadar untuk mencapai tujuan yang kelak ditentukan. Namun sering terjadi dalam praktek sehari-hari, bahwa pendidikan menyadarkan tindakan-tindakan tanpa hubungan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
Tujuan merupakan standar usaha yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Di samping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegaitan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.[9]
Permusuhan tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang meliputi beberapa aspeknya, misalnya tentang:
Pertama, tujuan dan tugas hidup manusia. Manusia hidup bukan karena kebutuhan sia-sia. Ia ciptakan dengan membawa tugas dan tugas hidup tertentu (QS.Ali Imran: 191). Tujuan diciptakan manusia hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Indikasi tugasnya berupa ibadah (khalifah Allah). Firman Allah SWT:
ُْูู ุฅَِّู ุตََูุงุชِู َُููุณُِูู َูู
َุญَْูุงَู َูู
َู
َุงุชِู َِِّููู ุฑَุจِّ ุงْูุนَุงَูู
َِูู
Artinya: ”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam.” (QS. Al-An’am: 162
Kedua, memperhatikan sifat-sifat dasar (nature) menusia, yaitu konsep tentang manusia sebagai makhluk unik yang mempunyai beberapa potensi bawaan, seperti fitrah, bakat, minat, sifat, dan karakter, yang berkecenderungan pada al-hanief (rindu akan kebenaran dari Tuhan) berupa agama Islam (Qs. Al-Kahfi: 29) sebatas kemampuan, kapasitas, dan ukuran yang ada.
Ketiga, tuntutan masyarakat. Tuntutan ini baik berupa pelestarian nnilai-nilai budaya yang telah melembaga dalam kehidupan suatu masyarakat, maupun pemenuhan terhadap tuntutan kebutuhan hidupnya dalam mengantisipasi perkembangan modern.
Keempat. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam. Dimensi kehidupan dunia ideal Islam mengandung nilai yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia untuk mengloladan menafaatkan dunia sebagai bekal kehidupan di akhirat, serta mengandung nilai yang mendorong manusia berusahakeras untuk meraih kehidupan di akhirat yang lebih membahagiakan, sehingga manusia dituntut agar tidak terbelengu oleh rantai kekayaan duniawi aau materi yang dimiliki.[10]
Dalam UUD RI No 20 tahun 2003 BAB II Pasal 3 disebutkan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis seta bertanggung jawab.[11]
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan keagamaan adalah membentuk peserta didik menjadi manusia yang sempurna, bermanfaat bagi kehidupan dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.
[1] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,(Bandung: Al-Maarif, 1989), hlm.41
[2] Ahmad Ludjito, Pendidikan Agama Sebagai Subsistem dan Implementasinya dalam Pendidikan Nasional dalam Chabib Thoha (eds) PMB PAI di Sekolah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 32
[3] Abdul Majid dan Dian Andrayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 132.
[4]
[5] M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah, Vol7, (Jakarta: Lentera Hati, Cet. II, 2004), HLM. 386
[6] Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Juz I, (Beirut:Daar al-Kutub al-Ilmiah, 1992), hlm. 413j
[7] Dr. Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 46
[8] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2000), hlm, 34
[9] Ahmad D. Marimba, op. cit, hlm. 45-46
[10] Dr. Abdul Mujib, op. cit, hlm. 71-72
[11] Undang-Undang RI No, 20 tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6.
Label:
artikel pendidikan
19.07

Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku
Written By RUMAH PENDIDIKAN on Minggu, 29 Januari 2012 | 19.07
Sisi Lain Ijazah Maiyah
Oleh: Saratri Wilonoyudho (Aktif Menemani Jamaah Maiyah Gambang Syafaat. Mengajar di Jurusan Teknik Sipil Unnes Semarang Jawa Tengah)
Bagi orang awam, ijazah itu hanya simbol yang biasa digunakan dunia persekolahan bahwa seseorang telah mencapai derajad tertentu, entah itu lulus SD, SMP, SMA, diploma, sarjana, master, atau doktor. Dari konstruksi kalimat ini, ijazah bukan tujuan yang harus dicari seseorang, karena yang dicari adalah ilmu. Faktanya, kalimat ini tidak berlaku seratus persen. Lihat saja di dunia persekolahan di negeri ini ternyata banyak diisi oleh kaum akademisi yang logikanya terbalik, yakni ijazah menjadi tujuan dan penguasaan ilmu menjadi nomor kesekian belas. Karenanya dapat dipahami jika ijazah menjadi komoditas yang paling laris. Jual beli ijazah dapat dilakukan terang-terangan, maupun dapat dilakukan secara tersulubung.
Coba saja iseng-iseng bertanya kepada seorang murid atau mahasiswa, maukah mendapat ijazah namun tidak mendapat ilmu, atau sebaliknya mendapat ilmu namun tidak mendapat ijazah misalnya, maka mahasiswa tersebur akan bersorak dan koor bersama: ”Yo mesti jelas pilih dapat ijazah (meski tidak dapat ilmu)”. Demikian juga mahasiswa saya, melihat saya sangat rajin mengisi kuliah sehingga tidak pernah sekalipun kosong, mereka malah bertanya: “Lho pak kok gak pernah kosong?” Saya hanya bilang: “Apa kalian ingin tidak ada kuliah saja dan kalian langsung saya kasih ijazah kosong dan diisi sendiri nilainya, mau?” Jawab mereka juga serempak: “Yo mestiiii….” Lalu mereka tertawa dan bertepuk tangan bersama, riuh rendah.
Mengapa yang dicari ijazah? Karena ijazah juga bisa untuk bekal masuk pegawai negeri, sedangkan ilmu belum tentu. Buktinya untuk masuk pegawai yang ditanyakan juga ijazahnya, bukan penguasaan ilmunya.
Cara memperdagangkan ijazah secara tersembunyi juga marak dilakukan, misalnya dengan cara mengatrol nilai, baik karena kasihan agar tidak menjadi mahasiswa abadi maupun karena memang rendah mutu perguruan tinggi yang bersangkutan. Lihat kasus nyontek massal dalam ujian nasional. Wajar jika kepemilikan ijazah seseorang tidak berbanding lurus dengan akhlaknya. Yang terjadi justru hal yang aneh: makin tinggi ijazah yang dimiliki seseorang, makin tinggi pula tingkat kecanggihannya untuk mencuri (korupsi). Korupsi jelas hanya dapat dilakukan oleh orang yang berijazah tinggi dan bukan oleh tukang becak, blantik sapi atau buruh penggali sumur.
Karenanya, janji Allah hanya akan meninggikan beberapa derajad orang yang berilmu pengetahuan, dan bukan orang yang berijazah. Sialnya orang-orang Barat yang notabene secara formal tidak Islam dan tidak pernah membaca Quran, yang justru mengamalkan janji Allah ini. Terlepas orang-orang Barat tidak pernah bermujahadah, namun mereka sangat hebat berijtihad. Wajar untuk kapasitas tertentu, derajad mereka ditinggikan Allah. Penemuan-penemuan penting sebelum Revolusi Industri dilakukan oleh orang-orang bengkel dan bukan orang-orang persekolahan. Nama-nama seperti Graham Bell, Marconi, Wright Bersaudara, Thomas Edison, James Watt, dst adalah para praktisi bengkel yang rajin “iqro” dan tekun berjihad dan berijtihad. Jihad artinya bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita dan pemikirannya.
Sebaliknya kita, sangat rajin bermujahadah, namun sangat malas untuk beriqro dan berijtihad. Negeri ini sangat kaya ilmuwan dan ulama fiqh, dan sedikit ulama atau ilmuwan yang rajin iqro dan berijtihad. Al Quran yang mestinya sebagai sumber ilmu, hanya ditimang dan dilombakan dalam MTQ, meski ini juga tidak salah. Maksud saya alangkah indahnya jika Quran selain dibaca dan dilombakan secara indah dan estetis, namun juga digali ilmunya. Dalam kitab ini Allah menebar ilmu, entah itu ilmu biologi, kimia, geologi, astronomi, hukum, ekonomi, demokrasi, dst, sampai cara berdagang yang adil di pasar, cara memperlakukan batu dan rumut, bahkan cara bagaimana bersenggama yang santun pun Quran mengajarkannya.
Ilmu-ilmu geologi mutakhir yang dikagumi saat ini, ternyata sudah ada di Quran ratusan tahun yang lalu. Ayat-ayat tentang: “Apa kamu kira gunung-gunung itu tetap tegak berdiri di tempatnya?“, “Akan Aku (Allah) tumpahkah isi lautan“, dst, adalah ilmu-ilmu tentang kerak bumi dan tsunami yang saat ini matian-matian kita klaim sebagai ilmu yang baru dan sebagian belum terpecahkan.
Singkatnya, Barat yang rajin berijtihad namun kurang bermujahadah menjadi melenceng dalam menyikapi hidup. Akibatnya ilmu-ilmu yang tinggi justru merusak dunia, misalnya untuk mengeksploitasi, menjajah dan untuk berperang. Sebaliknya kita yang rajin bermujahadah, sangat jarang berijtihad, akhirnya hanya menjadi arif namun tidak memiliki keahlian atau kecerdasan untuk mengatasi dunia ini. Banyak kiai, ulama, atau intelektual yang hebat pengetahuan agamanya, namun tidak dapat membumi dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat. Mereka hanya sangat fasih bertentangan dalam hal apakah ketika berkutex itu sah wudlunya atau tidak, dibandingkan suntuk menggali samudera pengetahuan yang maha luas ini. Dua-duanya sangat tidak disukai Allah. Padahal Ad-Dzariat 56 sudah jelas perintahnya
Mestinya yang disebut mahasiswa atau murid harus rajin iqro, jihad ber-ijtihad sekaligus ber-mujahadah. Ini laku yang maha penting. Dalam fiolosofi Jawa ada istilah “Ngelmu iku kelakone kanthi laku“. Kita tidak dapat menguasai ilmu dan memanfaatkannya jika tidak ikut berenang, berkontemplasi, serta mencari dengan kesungguhan. Dengan kata lain, yang namanya murid itu mestinya “berkehendak” sesuai asal kata “murid”. Namun yang terjadi orang bersekolah atau berkuliah, hanya menyodorkan otak kosong dan rendahnya kehendak untuk menguasai ilmu. Wajar jika plagiarisme menjadi santapan sehari-hari dunia pendidikan kita. Wajar lembaga-lembaga bimbingan tes atau pembuat skripsi/tesis/disertasi sangat laris bak jualan togel. Kalau tidak percaya, coba tanya seorang remaja yang bernama M. Ainun Nadjib, yang pada tahun 70-an, ketika usianya baru belasan tahun, sudah mampu membuatkan puluhan skripsi bagi para calon sarjana yang bodoh dan malas di Yogyakarta.
Sekarang kembali dan bandingkan dengan ilmuwan Barat. Mereka mengamalkan Quran dan falsafah Jawa tersebut dengan baiknya. Mereka rajin “iqro”, untuk membaca fenomena alam dan fenomena sosial. Di TV swasta dapat dilihat kegigihan ilmuwan Barat, yang hanya untuk sekadar mempelajari tingkah laku simpanse atau sekelompok laba-laba, ia rela hidup bertahun-tahun di hutan ! Mana ada ilmuwan kita yang seperti ini? Bahkan pemenang Nobel untuk pemetaan DNA, penelitiannya sudah dilakukan sejak tahun 1953 dan baru mendapat Nobel lima puluh tahun kemudian! Betapa suntuknya mereka mengembangkan ilmu.
Jelas bahwa para ilmuwan maupun mereka yang memiliki jabatan profesor dan gelar doktor, mestinya menyadari bahwa gelar atau jabatannya adalah titik awal untuk berkarya, dan bukan “tujuan”. Karena jika jabatan profesor hanya sebagai “tujuan”, maka ia diibaratkan akan seperti sebatang “pohon pisang” saja, yakni “sekali berbuah setelah itu mati“. Seorang profesor mestinya laksana sebuah sumur yang semakin banyak ditimba, semakin agung airnya. Karenanya di luar negeri ada rasa malu jika seorang profesor sudah tidak berkarya lagi di almamaternya. Sebutan “publish or perish” menggambarkan kesetiaan seorang profesor di luar negeri atas komitmen ilmiahnya sekaligus komitmen terhadap kejujuran nuraninya.
Di negara-negara maju kalau seseorang memiliki jabatan profesor, hampir dapat dipastikan ia adalah ilmuwan yang “kampiun”. Ia sosok yang sangat “haus” ipteks. Bahkan saking hausnya, banyak profesor di AS dan Australia, suntuk meneliti di Indonesia secara “khusyuk”.
Sebut saja para profesor seperti William Liddle dari Ohio State University, Richard Robison, Clifford Geertz, Herbert Feith, Sidney Jones, Terrence Hull, Gavin Jones, dst. Bahkan seorang antropolog wanita asal AS (saya lupa namanya) konon kawin dengan Kepala Suku di Lembah Baliem Papua, “hanya” agar dirinya lebih mudah meneliti perilaku sosial suku tersebut. Serpihan contoh ini hanya sekadar menggambarkan betapa hausnya para profesor akan ilmu pengetahuan. Baginya ada kepuasan batin yang tiada tara ketika berhasil menganalisis berbagai fenomena sosial dan alam untuk dijadikan alat memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.
Negeri kita belum sampai ke taraf ini, karena bangsa ini masih bermental gelar formalitas. Bahkan ibadah haji yang setara dengan rukun Islam lainnya juga dibawa-bawa sebagai gelar dan disebut dalam setiap kesempatan. Karenanya dapat dipahami meski jumlah profesor terus bertambah namun tidak berarti ada rumus linier bahwa mereka akan menyumbangkan pemikiran dan penemuannya, apalagi memecahkan masalah kemasyarakatan. Wajar jika kemacetan lalu lintas malahan terus semakin ruwet, banjir tambah parah, jalan tol longsor meski baru dibangun dua bulan, impor beras dan produk-produk pertanian ditingkatkan, dst, meski di kota-kota yang mengalami masalah tersebut merupakan tempat tinggal para profesor. Karya para profesor tersebut belum begitu nampak, mungkin karena kesibukannya dalam menata kampusnya, lembaganya, instansinya, dst.
Ijazah Maiyah yang digagas dan direalisasikan di Surabaya 14 Nopember 2011 yang lalu dimaksudkan untuk memberi penghargaan orang-orang yang sudah mampu melampaui agama atas agama. Mereka adalah orang-orang yang sangat suntuk ber S1,S2, S3 bahkan S4 di Universitas Kehidupan. Mereka bukan pemburu secarik kertas ijazah, apalagi berorientasi pasar, namun sudah berhasil menjadi khalifatullah dalam arti sesungguhnya, yang antara lain ditandai oleh lima hal, yakni:
Pertama, mereka benar dalam memilih nilai-nilai hidup sehingga mereka paham fitrahnya sebagai khalifatullah; Kedua, nilai-nilai hidup dan tindakannya sangat otentik karena dituntun oleh Allah dan hukan oleh iklan atau pengaruh keduniawian lainnya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa kalau menjadi ustadz atau seniman, adalah seniman atau ustadz yang laku di pasaran. Mereka hanya berpikiran bahwa hidup itu untuk beribadah, dan kata ibadah itu luas maknanya, terutama bagaimana dirinya dapat memaksimalkan potensinya agar bermanfaat bagi alam semesta ini.
Ketiga, semua yang mereka lakukan dilandasi penuh kesungguhan karena ini bukan saja sekadar pilihan hidup, namun perintah hidup. Mereka berlandaskan moral atau akhlak dan bukan kesungguhan karena paksaan syariat atau ancaman dosa-pahala, apalagi hanya taat karena ada aturan hukum belaka. Keempat, kesungguhan itu harus dibuktikan dalam waktu yang lama, dan ini berarti harus ada nilai kesetiaan, dan kelima, keikhlasan menjadi kata kunci yang sangat penting, karena apa arti kesungguhan jika tidak bertahan lama dan selalu menggerutu?
Muara dari kelima hal tersebut adalah bahwa apa yang dilakukan para penerima ijazah Maiyah adalah, bahwa mereka melakukan sesuatu bukan karena mereka senang, namun juga melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak mereka senangi karena memang ini pilihan yang baik sebagaimana dituntunkan rasulullah dan Allah SWT.
Dunia persekolahan, khususnya perguruan tinggi, mestinya mencontoh nilai-nilai yang ditawarkan para penerima ijazah Maiyah ini. Jika ini disepakati, berarti perguruan tinggi harus selalu aktif meninjau kelembagaan dan organisasi intern dan isi kurikulum yang digunakan agar mendukung pertumbuhan masyarakat ilmiah yang menjunjung kemartabatan manusia. Kurikulum tidak dirancang untuk menghasilkan lulusan yang seragam dan massal, namun yang mampu menunjang kreativitas, sikap akademis, kepribadian dan kemandirian. Dalam perspektif yang lebih luas, tidak terjebak dalam pengkotakan ilmu, teknologi, seni yang terspesialisasi pada bidang-bidang tertentu secara kaku, namun juga aktif mengembangkan kajian ipteks interdisipliner; agar lulusannya memiliki wawasan interdisipliner;
Selanjutnya mengembangkan budaya keterbukaan, kejujuran dan berorientasi kepada pencapaian prestasi akademik, menjadi kewajibannya. Budaya akademik tersebut harus dijiwai nilai-nilai kebenaran yang tidak hanya berorientasi kepuasan ilmiah-intelektual namun sebagai bagian tanggungjawab moral akademik terhadap lingkungannya. Dengan kata lain pengembangkan kebudayaan akademik harus berorientasi kepada kebebasan akademik yang tidak bertentangan dengan nilai kemartabatan manusia. Idealisme ini dapat tercapai jika kukuh dalam memegang prinsip “otonomi universitas”, yakni tidak mudah terseret pada kepentingan pribadi maupun kepentingan dari luar yang bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran akademis, kebenaran ilmiah, nilai-nilai kemartabatan manusia.
Jika idealisme tersebut dapat diwujudkan maka perguruan tinggi akan tetap kritis menyuarakan kebenaran akademis, membela kepentingan masyarakat yang tertindas dan terbelakang, melalui cara-cara yang tidak anarkhis dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. Para civitas akademika menjunjung tinggi kehormatan universitas, dengan karya-karya yang bermutu sebagai panggilan jiwa yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Untuk menggerakkan dunia ilmiah, perlu pemikiran tentang penghargaan karya-karya dari civitas akademika, dengan penghargaan yang sepadan dan proporsional antara kepentingan akademis dan nonakademis. Artinya perlu pula menerapkan “reward-punishment” yang jelas dan tegas kepada civitas akademika yang melanggar nilai-nilai akademis dan mencederai nama universitas dengan tindakan yang bertentangan dengan moral-etika, dan tidak segan memberi kesempatan kepada dosen muda yang berpotensi; Dedikasi lebih penting daripada sekadar brilyan namun rendah loyalitasnya kepada pendidikan, karya ilmiah dan kepada masyarakat.
Untuk menunjang idealisme tersebut lembaga penelitian harus dikembangkan secara profesional sebagai simbol ilmiah sebuah universitas, dan harus berorientasi kepada kebenaran ilmiah yang inovatif dan berpihak kepada nilai-nilai kemartabatan manusia dan peradaban. Lembaga penelitian tidak hanya sekadar memberikan solusi praktis kepada masyarakat, bangsa dan negara, namun juga pengembangan teori, konsep baru dan memperluas kerjasama dengan institusi lain yang ditujukan bagi kemartabatan umat manusia.
Untuk mengembangkan budaya meneliti, ada proses yang rutin dalam pengembangan budaya “curiosity“, semangat akademis, semangat kerjasama, ketekunan, kedisiplinan, tanggungjawab ilmiah, dan daya imajinasi yang tinggi, baik lewat lomba, seminar, lokakarya, pelatihan, “peer-group“, dan sebagainya yang tidak terlalu tergantung kepada kelengkapan fasilitas. Untuk itu mental untuk maju yang dikedepankan. Jarak sosial antara profesor-doktor, pejabat, dengan dosen-mahasiswa harus diperdekat agar terjadi budaya dialog-kritis untuk tidak menghambat pengembangan ipteks. Kehormatan civitas akademika (profesor-doktor-dosen-pejabat) ditentukan oleh bobot intelektualitas, komitmen dan kejujuran di segala bidang kehidupan. Menghindarkan civitas akademika dan universitas sebagai penopang kekuatan tertentu, namun terus mendorong perguruan tinggi sebagai penopang peradaban dan nilai-nilai kemartabatan. (http://www.caknun.com/2011/ngelmu-iku-kelakone-kanthi-laku/)
Coba saja iseng-iseng bertanya kepada seorang murid atau mahasiswa, maukah mendapat ijazah namun tidak mendapat ilmu, atau sebaliknya mendapat ilmu namun tidak mendapat ijazah misalnya, maka mahasiswa tersebur akan bersorak dan koor bersama: ”Yo mesti jelas pilih dapat ijazah (meski tidak dapat ilmu)”. Demikian juga mahasiswa saya, melihat saya sangat rajin mengisi kuliah sehingga tidak pernah sekalipun kosong, mereka malah bertanya: “Lho pak kok gak pernah kosong?” Saya hanya bilang: “Apa kalian ingin tidak ada kuliah saja dan kalian langsung saya kasih ijazah kosong dan diisi sendiri nilainya, mau?” Jawab mereka juga serempak: “Yo mestiiii….” Lalu mereka tertawa dan bertepuk tangan bersama, riuh rendah.
Mengapa yang dicari ijazah? Karena ijazah juga bisa untuk bekal masuk pegawai negeri, sedangkan ilmu belum tentu. Buktinya untuk masuk pegawai yang ditanyakan juga ijazahnya, bukan penguasaan ilmunya.
Cara memperdagangkan ijazah secara tersembunyi juga marak dilakukan, misalnya dengan cara mengatrol nilai, baik karena kasihan agar tidak menjadi mahasiswa abadi maupun karena memang rendah mutu perguruan tinggi yang bersangkutan. Lihat kasus nyontek massal dalam ujian nasional. Wajar jika kepemilikan ijazah seseorang tidak berbanding lurus dengan akhlaknya. Yang terjadi justru hal yang aneh: makin tinggi ijazah yang dimiliki seseorang, makin tinggi pula tingkat kecanggihannya untuk mencuri (korupsi). Korupsi jelas hanya dapat dilakukan oleh orang yang berijazah tinggi dan bukan oleh tukang becak, blantik sapi atau buruh penggali sumur.
Karenanya, janji Allah hanya akan meninggikan beberapa derajad orang yang berilmu pengetahuan, dan bukan orang yang berijazah. Sialnya orang-orang Barat yang notabene secara formal tidak Islam dan tidak pernah membaca Quran, yang justru mengamalkan janji Allah ini. Terlepas orang-orang Barat tidak pernah bermujahadah, namun mereka sangat hebat berijtihad. Wajar untuk kapasitas tertentu, derajad mereka ditinggikan Allah. Penemuan-penemuan penting sebelum Revolusi Industri dilakukan oleh orang-orang bengkel dan bukan orang-orang persekolahan. Nama-nama seperti Graham Bell, Marconi, Wright Bersaudara, Thomas Edison, James Watt, dst adalah para praktisi bengkel yang rajin “iqro” dan tekun berjihad dan berijtihad. Jihad artinya bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita dan pemikirannya.
Sebaliknya kita, sangat rajin bermujahadah, namun sangat malas untuk beriqro dan berijtihad. Negeri ini sangat kaya ilmuwan dan ulama fiqh, dan sedikit ulama atau ilmuwan yang rajin iqro dan berijtihad. Al Quran yang mestinya sebagai sumber ilmu, hanya ditimang dan dilombakan dalam MTQ, meski ini juga tidak salah. Maksud saya alangkah indahnya jika Quran selain dibaca dan dilombakan secara indah dan estetis, namun juga digali ilmunya. Dalam kitab ini Allah menebar ilmu, entah itu ilmu biologi, kimia, geologi, astronomi, hukum, ekonomi, demokrasi, dst, sampai cara berdagang yang adil di pasar, cara memperlakukan batu dan rumut, bahkan cara bagaimana bersenggama yang santun pun Quran mengajarkannya.
Ilmu-ilmu geologi mutakhir yang dikagumi saat ini, ternyata sudah ada di Quran ratusan tahun yang lalu. Ayat-ayat tentang: “Apa kamu kira gunung-gunung itu tetap tegak berdiri di tempatnya?“, “Akan Aku (Allah) tumpahkah isi lautan“, dst, adalah ilmu-ilmu tentang kerak bumi dan tsunami yang saat ini matian-matian kita klaim sebagai ilmu yang baru dan sebagian belum terpecahkan.
Singkatnya, Barat yang rajin berijtihad namun kurang bermujahadah menjadi melenceng dalam menyikapi hidup. Akibatnya ilmu-ilmu yang tinggi justru merusak dunia, misalnya untuk mengeksploitasi, menjajah dan untuk berperang. Sebaliknya kita yang rajin bermujahadah, sangat jarang berijtihad, akhirnya hanya menjadi arif namun tidak memiliki keahlian atau kecerdasan untuk mengatasi dunia ini. Banyak kiai, ulama, atau intelektual yang hebat pengetahuan agamanya, namun tidak dapat membumi dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat. Mereka hanya sangat fasih bertentangan dalam hal apakah ketika berkutex itu sah wudlunya atau tidak, dibandingkan suntuk menggali samudera pengetahuan yang maha luas ini. Dua-duanya sangat tidak disukai Allah. Padahal Ad-Dzariat 56 sudah jelas perintahnya
Mestinya yang disebut mahasiswa atau murid harus rajin iqro, jihad ber-ijtihad sekaligus ber-mujahadah. Ini laku yang maha penting. Dalam fiolosofi Jawa ada istilah “Ngelmu iku kelakone kanthi laku“. Kita tidak dapat menguasai ilmu dan memanfaatkannya jika tidak ikut berenang, berkontemplasi, serta mencari dengan kesungguhan. Dengan kata lain, yang namanya murid itu mestinya “berkehendak” sesuai asal kata “murid”. Namun yang terjadi orang bersekolah atau berkuliah, hanya menyodorkan otak kosong dan rendahnya kehendak untuk menguasai ilmu. Wajar jika plagiarisme menjadi santapan sehari-hari dunia pendidikan kita. Wajar lembaga-lembaga bimbingan tes atau pembuat skripsi/tesis/disertasi sangat laris bak jualan togel. Kalau tidak percaya, coba tanya seorang remaja yang bernama M. Ainun Nadjib, yang pada tahun 70-an, ketika usianya baru belasan tahun, sudah mampu membuatkan puluhan skripsi bagi para calon sarjana yang bodoh dan malas di Yogyakarta.
Sekarang kembali dan bandingkan dengan ilmuwan Barat. Mereka mengamalkan Quran dan falsafah Jawa tersebut dengan baiknya. Mereka rajin “iqro”, untuk membaca fenomena alam dan fenomena sosial. Di TV swasta dapat dilihat kegigihan ilmuwan Barat, yang hanya untuk sekadar mempelajari tingkah laku simpanse atau sekelompok laba-laba, ia rela hidup bertahun-tahun di hutan ! Mana ada ilmuwan kita yang seperti ini? Bahkan pemenang Nobel untuk pemetaan DNA, penelitiannya sudah dilakukan sejak tahun 1953 dan baru mendapat Nobel lima puluh tahun kemudian! Betapa suntuknya mereka mengembangkan ilmu.
Jelas bahwa para ilmuwan maupun mereka yang memiliki jabatan profesor dan gelar doktor, mestinya menyadari bahwa gelar atau jabatannya adalah titik awal untuk berkarya, dan bukan “tujuan”. Karena jika jabatan profesor hanya sebagai “tujuan”, maka ia diibaratkan akan seperti sebatang “pohon pisang” saja, yakni “sekali berbuah setelah itu mati“. Seorang profesor mestinya laksana sebuah sumur yang semakin banyak ditimba, semakin agung airnya. Karenanya di luar negeri ada rasa malu jika seorang profesor sudah tidak berkarya lagi di almamaternya. Sebutan “publish or perish” menggambarkan kesetiaan seorang profesor di luar negeri atas komitmen ilmiahnya sekaligus komitmen terhadap kejujuran nuraninya.
Di negara-negara maju kalau seseorang memiliki jabatan profesor, hampir dapat dipastikan ia adalah ilmuwan yang “kampiun”. Ia sosok yang sangat “haus” ipteks. Bahkan saking hausnya, banyak profesor di AS dan Australia, suntuk meneliti di Indonesia secara “khusyuk”.
Sebut saja para profesor seperti William Liddle dari Ohio State University, Richard Robison, Clifford Geertz, Herbert Feith, Sidney Jones, Terrence Hull, Gavin Jones, dst. Bahkan seorang antropolog wanita asal AS (saya lupa namanya) konon kawin dengan Kepala Suku di Lembah Baliem Papua, “hanya” agar dirinya lebih mudah meneliti perilaku sosial suku tersebut. Serpihan contoh ini hanya sekadar menggambarkan betapa hausnya para profesor akan ilmu pengetahuan. Baginya ada kepuasan batin yang tiada tara ketika berhasil menganalisis berbagai fenomena sosial dan alam untuk dijadikan alat memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.
Negeri kita belum sampai ke taraf ini, karena bangsa ini masih bermental gelar formalitas. Bahkan ibadah haji yang setara dengan rukun Islam lainnya juga dibawa-bawa sebagai gelar dan disebut dalam setiap kesempatan. Karenanya dapat dipahami meski jumlah profesor terus bertambah namun tidak berarti ada rumus linier bahwa mereka akan menyumbangkan pemikiran dan penemuannya, apalagi memecahkan masalah kemasyarakatan. Wajar jika kemacetan lalu lintas malahan terus semakin ruwet, banjir tambah parah, jalan tol longsor meski baru dibangun dua bulan, impor beras dan produk-produk pertanian ditingkatkan, dst, meski di kota-kota yang mengalami masalah tersebut merupakan tempat tinggal para profesor. Karya para profesor tersebut belum begitu nampak, mungkin karena kesibukannya dalam menata kampusnya, lembaganya, instansinya, dst.
Ijazah Maiyah dan Budaya Akademik Universitas
Dari sketsa tersebut, maka mestinya Islam harus “diradikalisasi”. Islam harus beranjak dari sekadar budaya fiqh ke budaya syariah muamallah, Islam harus beranjak dari tafsiran-tafsiran yang hanya bersifat intuitif menjadi rasional (ilmiah). Islam harus dirubah dari sekadar disikapi secara spontanitas menjadi Islam yang organisatoris, dari yang mekanik menjadi dinamik, dari personal ke yang sistemik. Islam mesti menjadi agama yang kompet, yakni agama atas agama, yang melintasi “agama” instink, intelek dan agama wahyu.Ijazah Maiyah yang digagas dan direalisasikan di Surabaya 14 Nopember 2011 yang lalu dimaksudkan untuk memberi penghargaan orang-orang yang sudah mampu melampaui agama atas agama. Mereka adalah orang-orang yang sangat suntuk ber S1,S2, S3 bahkan S4 di Universitas Kehidupan. Mereka bukan pemburu secarik kertas ijazah, apalagi berorientasi pasar, namun sudah berhasil menjadi khalifatullah dalam arti sesungguhnya, yang antara lain ditandai oleh lima hal, yakni:
Pertama, mereka benar dalam memilih nilai-nilai hidup sehingga mereka paham fitrahnya sebagai khalifatullah; Kedua, nilai-nilai hidup dan tindakannya sangat otentik karena dituntun oleh Allah dan hukan oleh iklan atau pengaruh keduniawian lainnya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa kalau menjadi ustadz atau seniman, adalah seniman atau ustadz yang laku di pasaran. Mereka hanya berpikiran bahwa hidup itu untuk beribadah, dan kata ibadah itu luas maknanya, terutama bagaimana dirinya dapat memaksimalkan potensinya agar bermanfaat bagi alam semesta ini.
Ketiga, semua yang mereka lakukan dilandasi penuh kesungguhan karena ini bukan saja sekadar pilihan hidup, namun perintah hidup. Mereka berlandaskan moral atau akhlak dan bukan kesungguhan karena paksaan syariat atau ancaman dosa-pahala, apalagi hanya taat karena ada aturan hukum belaka. Keempat, kesungguhan itu harus dibuktikan dalam waktu yang lama, dan ini berarti harus ada nilai kesetiaan, dan kelima, keikhlasan menjadi kata kunci yang sangat penting, karena apa arti kesungguhan jika tidak bertahan lama dan selalu menggerutu?
Muara dari kelima hal tersebut adalah bahwa apa yang dilakukan para penerima ijazah Maiyah adalah, bahwa mereka melakukan sesuatu bukan karena mereka senang, namun juga melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak mereka senangi karena memang ini pilihan yang baik sebagaimana dituntunkan rasulullah dan Allah SWT.
Dunia persekolahan, khususnya perguruan tinggi, mestinya mencontoh nilai-nilai yang ditawarkan para penerima ijazah Maiyah ini. Jika ini disepakati, berarti perguruan tinggi harus selalu aktif meninjau kelembagaan dan organisasi intern dan isi kurikulum yang digunakan agar mendukung pertumbuhan masyarakat ilmiah yang menjunjung kemartabatan manusia. Kurikulum tidak dirancang untuk menghasilkan lulusan yang seragam dan massal, namun yang mampu menunjang kreativitas, sikap akademis, kepribadian dan kemandirian. Dalam perspektif yang lebih luas, tidak terjebak dalam pengkotakan ilmu, teknologi, seni yang terspesialisasi pada bidang-bidang tertentu secara kaku, namun juga aktif mengembangkan kajian ipteks interdisipliner; agar lulusannya memiliki wawasan interdisipliner;
Selanjutnya mengembangkan budaya keterbukaan, kejujuran dan berorientasi kepada pencapaian prestasi akademik, menjadi kewajibannya. Budaya akademik tersebut harus dijiwai nilai-nilai kebenaran yang tidak hanya berorientasi kepuasan ilmiah-intelektual namun sebagai bagian tanggungjawab moral akademik terhadap lingkungannya. Dengan kata lain pengembangkan kebudayaan akademik harus berorientasi kepada kebebasan akademik yang tidak bertentangan dengan nilai kemartabatan manusia. Idealisme ini dapat tercapai jika kukuh dalam memegang prinsip “otonomi universitas”, yakni tidak mudah terseret pada kepentingan pribadi maupun kepentingan dari luar yang bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran akademis, kebenaran ilmiah, nilai-nilai kemartabatan manusia.
Jika idealisme tersebut dapat diwujudkan maka perguruan tinggi akan tetap kritis menyuarakan kebenaran akademis, membela kepentingan masyarakat yang tertindas dan terbelakang, melalui cara-cara yang tidak anarkhis dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. Para civitas akademika menjunjung tinggi kehormatan universitas, dengan karya-karya yang bermutu sebagai panggilan jiwa yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Untuk menggerakkan dunia ilmiah, perlu pemikiran tentang penghargaan karya-karya dari civitas akademika, dengan penghargaan yang sepadan dan proporsional antara kepentingan akademis dan nonakademis. Artinya perlu pula menerapkan “reward-punishment” yang jelas dan tegas kepada civitas akademika yang melanggar nilai-nilai akademis dan mencederai nama universitas dengan tindakan yang bertentangan dengan moral-etika, dan tidak segan memberi kesempatan kepada dosen muda yang berpotensi; Dedikasi lebih penting daripada sekadar brilyan namun rendah loyalitasnya kepada pendidikan, karya ilmiah dan kepada masyarakat.
Untuk menunjang idealisme tersebut lembaga penelitian harus dikembangkan secara profesional sebagai simbol ilmiah sebuah universitas, dan harus berorientasi kepada kebenaran ilmiah yang inovatif dan berpihak kepada nilai-nilai kemartabatan manusia dan peradaban. Lembaga penelitian tidak hanya sekadar memberikan solusi praktis kepada masyarakat, bangsa dan negara, namun juga pengembangan teori, konsep baru dan memperluas kerjasama dengan institusi lain yang ditujukan bagi kemartabatan umat manusia.
Untuk mengembangkan budaya meneliti, ada proses yang rutin dalam pengembangan budaya “curiosity“, semangat akademis, semangat kerjasama, ketekunan, kedisiplinan, tanggungjawab ilmiah, dan daya imajinasi yang tinggi, baik lewat lomba, seminar, lokakarya, pelatihan, “peer-group“, dan sebagainya yang tidak terlalu tergantung kepada kelengkapan fasilitas. Untuk itu mental untuk maju yang dikedepankan. Jarak sosial antara profesor-doktor, pejabat, dengan dosen-mahasiswa harus diperdekat agar terjadi budaya dialog-kritis untuk tidak menghambat pengembangan ipteks. Kehormatan civitas akademika (profesor-doktor-dosen-pejabat) ditentukan oleh bobot intelektualitas, komitmen dan kejujuran di segala bidang kehidupan. Menghindarkan civitas akademika dan universitas sebagai penopang kekuatan tertentu, namun terus mendorong perguruan tinggi sebagai penopang peradaban dan nilai-nilai kemartabatan. (http://www.caknun.com/2011/ngelmu-iku-kelakone-kanthi-laku/)
Label:
artikel pendidikan
08.46
Saat Anda mendengar kata HIPNOSIS, secara otomatis terlintas dipikiran bahwa kata tersebut mengacu pada sebuah teknik menidurkan orang dan mempengaruhi orang tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini karena alam bawah sadar Anda telah memperoleh informasi sebelumnya dari berbagai media, baik buku, TV, majalah dsb.
Berikut ini saya akan berbagi cerita tentang cara menyajikan materi pelajaran dengan sebuah teknik yang diistilahkan dengan “hypnoteaching”. Yaitu menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Sehingga perhatian siswa akan tersedot secara penuh pada materi Anda. Sama persis seperti ketika Anda yang laki-laki, ketika mengendara kendaraan di jalan. Kemudian tiba-tiba ada sorang cewek secantik Luna Maya menyebrang jalan dengan pakaian yang menempel lekat pada seluruh bagian lekuk tubuhnya. Sehingga tanpa Anda sadari perhatian Anda selama sekian detik akan tertuju pada cewek cantik tersebut. Betulkah demikian ? Bisa Anda bayangkan bila cewek cantik tersebut menghampiri Anda dan mengajak Anda berbincang. Seberapa kuat Anda berpaling dari cewek cantik tersebut ??
Atau serupa dengan Anda yang perempuan, ketika berjalan di sebuah shopping center kemudian melihat baju yang begitu anggun sedang terpajang di etalase sebuah toko pakaian. Atau sebuah papan pengumuman besar yang digantung di depan pintu toko, dengan tulisan Big Sale 75% Off. Berapa detik perhatian Anda secara spontan tersedot pada pajangan tersebut ? Bayangkan lebih lagi jika ada pramuniaganya yang ramah menyapa Anda dan berkata “silahkan ibu / mbak. Silahkan pilih yang ibu / mbak suka. Setiap pembelian 3 buah barang akan mendapat bonus voucher belanja senilai Rp 100rb”. Pertanyaan saya, Seberapa kuat Anda berpaling dari hal tersebut ?
Hal-hal yang sangat menarik bukan ? Ya itulah yang terjadi ketika sebuah pesan disampaikan melalui bahasa bawah sadar. Sehingga Anda akan memperhatikan dan enggan untuk berpaling. Anda merasa sangat senang dan bahagia ketika itu. Meski sebelumnya Anda tidak memiliki rencana untuk “memelototi” cewek cantik atau membeli baju.
Hal itulah yang bisa juga Anda lakukan pada anak didik Anda. Yaitu membuat mereka memberikan perhatian yang tinggi pada pelajaran Anda, bersemangat dan bahagia ketika mengikuti sesi pelajaran Anda. Bukan seperti kebanyakan yang sering terjadi. Mengikuti sesi pelajaran karena terpaksa dan tertekan.
Untuk melakukan hypnoteaching, hanya diperlukan langkah-langkah sederhana namun jitu. Seperti jurus bela diri tai chi yang lemah gemulai namun sangat power full untuk menghajar lawan.
Untuk menjadi ahli dalam hypnoteaching, diperlukan latihan yang wajib dilakukan sesering mungkin ketika menyajikan sesi pelajaran. Dengan menerapkan langkah-langkah dasar yang akan saya ceritakan berikutnya, Anda akan bisa setara dengan para trainer atau motivator top Indonesia, bahkan dunia. Seperti Anda ketahui, para motivator dan trainer SDM, selalu bisa membuat audience-nya antusias selama mengikuti sesinya. Disamping dapat memberikan stimulasi-stimulasi pencerahan, yang dapat menjadi bekal berharga pasca mengikuti sesi. Selain pula, …………….ssssssssssttttt…………..tarifnya muahaaaal.
Apakah Anda bersedia untuk meng-upgrade diri Anda menjadi semakin luar biasa seperti itu ???
Pembelajaran Berbasis Hyno Teaching Melejitkan Kecerdasan
Written By RUMAH PENDIDIKAN on Minggu, 22 Januari 2012 | 08.46
Apa sih sebetulnya Hipnoteaching itu? Apakah sama dengan HIPNOTIS yang Anda duga sebelumnya?
Ketika Anda bersedia membaca artikel ini, membuktikan bahwa Anda adalah seorang guru atau pendidik yang memiliki dedikasi yang tinggi pada profesi Anda. Anda adalah seorang profesional yang memiliki visi mencerdaskan anak didik Anda. Lebih dari sekedar mencari status kepegawaian atau sertifikasi. Salut untuk Anda. Bravooooo……..
Berikut ini saya akan berbagi cerita tentang cara menyajikan materi pelajaran dengan sebuah teknik yang diistilahkan dengan “hypnoteaching”. Yaitu menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Sehingga perhatian siswa akan tersedot secara penuh pada materi Anda. Sama persis seperti ketika Anda yang laki-laki, ketika mengendara kendaraan di jalan. Kemudian tiba-tiba ada sorang cewek secantik Luna Maya menyebrang jalan dengan pakaian yang menempel lekat pada seluruh bagian lekuk tubuhnya. Sehingga tanpa Anda sadari perhatian Anda selama sekian detik akan tertuju pada cewek cantik tersebut. Betulkah demikian ? Bisa Anda bayangkan bila cewek cantik tersebut menghampiri Anda dan mengajak Anda berbincang. Seberapa kuat Anda berpaling dari cewek cantik tersebut ??
Atau serupa dengan Anda yang perempuan, ketika berjalan di sebuah shopping center kemudian melihat baju yang begitu anggun sedang terpajang di etalase sebuah toko pakaian. Atau sebuah papan pengumuman besar yang digantung di depan pintu toko, dengan tulisan Big Sale 75% Off. Berapa detik perhatian Anda secara spontan tersedot pada pajangan tersebut ? Bayangkan lebih lagi jika ada pramuniaganya yang ramah menyapa Anda dan berkata “silahkan ibu / mbak. Silahkan pilih yang ibu / mbak suka. Setiap pembelian 3 buah barang akan mendapat bonus voucher belanja senilai Rp 100rb”. Pertanyaan saya, Seberapa kuat Anda berpaling dari hal tersebut ?
Hal-hal yang sangat menarik bukan ? Ya itulah yang terjadi ketika sebuah pesan disampaikan melalui bahasa bawah sadar. Sehingga Anda akan memperhatikan dan enggan untuk berpaling. Anda merasa sangat senang dan bahagia ketika itu. Meski sebelumnya Anda tidak memiliki rencana untuk “memelototi” cewek cantik atau membeli baju.
Hal itulah yang bisa juga Anda lakukan pada anak didik Anda. Yaitu membuat mereka memberikan perhatian yang tinggi pada pelajaran Anda, bersemangat dan bahagia ketika mengikuti sesi pelajaran Anda. Bukan seperti kebanyakan yang sering terjadi. Mengikuti sesi pelajaran karena terpaksa dan tertekan.
Untuk melakukan hypnoteaching, hanya diperlukan langkah-langkah sederhana namun jitu. Seperti jurus bela diri tai chi yang lemah gemulai namun sangat power full untuk menghajar lawan.
Untuk menjadi ahli dalam hypnoteaching, diperlukan latihan yang wajib dilakukan sesering mungkin ketika menyajikan sesi pelajaran. Dengan menerapkan langkah-langkah dasar yang akan saya ceritakan berikutnya, Anda akan bisa setara dengan para trainer atau motivator top Indonesia, bahkan dunia. Seperti Anda ketahui, para motivator dan trainer SDM, selalu bisa membuat audience-nya antusias selama mengikuti sesinya. Disamping dapat memberikan stimulasi-stimulasi pencerahan, yang dapat menjadi bekal berharga pasca mengikuti sesi. Selain pula, …………….ssssssssssttttt…………..tarifnya muahaaaal.
Apakah Anda bersedia untuk meng-upgrade diri Anda menjadi semakin luar biasa seperti itu ???
Berikut ini adalah langkah-langkah dasar yang wajib dilakukan agar dapat menguasai jurus menjadi guru yang setara dengan motivator dunia. Langkah-langkah tersebut adalah :
1. Niat dan motivasi dalam diri Anda.
Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi, serta komitmen untuk concern dan survive pada bidang yang Anda tekuni. Sehebat apapun metode yang saya ceritakan, sesukses apapun orang-orang yang telah melaksanakan teknik ini, tanpa niat yang besar dari Anda, maka Anda hanya menjadi Anda yang sekarang. Tidak bertambah dan berkembang kualitasnya. Sebaliknya, jika Anda memiliki niat yang besar untuk mempelajari dan melatih hypnoteaching, maka Anda akan membuktikan sendiri betapa dahsyatnya metode ini.
Saran saya, lakukan saja sesuatu yang Anda yakin akan dapat mengembangkan kualitas diri Anda. Termasuk hypnoteaching. Abaikan suara-suara dan perasaan-perasaan yang menghambat untuk maju.
Saran saya, lakukan saja sesuatu yang Anda yakin akan dapat mengembangkan kualitas diri Anda. Termasuk hypnoteaching. Abaikan suara-suara dan perasaan-perasaan yang menghambat untuk maju.
2. Pacing.
Langkah kedua ini adalah langkah yang sangat penting. Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain, atau siswa Anda.
Prinsip dasar disini adalah “manusia cenderung, atau lebih suka berkumpul / berinteraksi dengan sejenisnya / memiliki banyak kesamaan”. Mengertikah Anda tentang maksud saya ini ?
Misalnya Anda menghadiri sebuah pertemuan seluruh warga di tempat tinggal Anda. Dimana terdapat beberapa strata usia, diantaranya bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, anak-anak. Misalnya mereka datang dari berbagai penjuru secara acak, dan kemudian dipersilahkan dengan bebas untuk memilih tempat duduk. Kira-kira apakah bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan anak-anak duduk secara membaur dan acak ? Atau mereka cenderung berkumpul sesuai usianya ? Bapak-bapak memilih untuk ngobrol dengan sesame bapak-bapak. Sedang ibu-ibu juga memilih melakukan hal yang sama. Remaja dan anak-anak pun akhirnya sibuk bercanda dengan sesamanya. Benar demikian ?
Belum lagi para penggemar sepak bola akan ngobrol seru dengan sesama penggemar sepak bola. Penggemar gossip pun akan berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama suka gossip.
Prinsip dasar disini adalah “manusia cenderung, atau lebih suka berkumpul / berinteraksi dengan sejenisnya / memiliki banyak kesamaan”. Mengertikah Anda tentang maksud saya ini ?
Misalnya Anda menghadiri sebuah pertemuan seluruh warga di tempat tinggal Anda. Dimana terdapat beberapa strata usia, diantaranya bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, anak-anak. Misalnya mereka datang dari berbagai penjuru secara acak, dan kemudian dipersilahkan dengan bebas untuk memilih tempat duduk. Kira-kira apakah bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan anak-anak duduk secara membaur dan acak ? Atau mereka cenderung berkumpul sesuai usianya ? Bapak-bapak memilih untuk ngobrol dengan sesame bapak-bapak. Sedang ibu-ibu juga memilih melakukan hal yang sama. Remaja dan anak-anak pun akhirnya sibuk bercanda dengan sesamanya. Benar demikian ?
Belum lagi para penggemar sepak bola akan ngobrol seru dengan sesama penggemar sepak bola. Penggemar gossip pun akan berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama suka gossip.
Secara alami dan naluriah, setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. Seperti misalnya Anda yang berprofesi sebagai guru / pendidik. Jika Anda boleh memilih, pasti Anda lebih nyaman berkumpul dan ngobrol bersama sesama guru / pendidik meski dari usia yang berbeda-beda, daripada Anda berkumpul dengan para anggota DPR atau pengusaha pabrik yang kaya raya, atau mungkin para gembel. Jika Anda merasa nyaman berkumpul dengan orang pada golongan tertentu, hal tersebut berarti Anda memiliki banyak kesamaan dengan orang-orang dalam golongan tersebut. Coba anda renungkan………
Kesamaan-kesamaan diantara beberapa orang, akan memancarkan gelombang otak yang sama. Sehingga orang-orang dalam golongan itu akan merasa nyaman berada di dalamnya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini, maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat baik.
Sama dengan siswa-siswa kita. Jika mereka membenci sesi pengajaran Anda, berarti gelombang otak Anda belum setara dengan mereka. Anda dan para siswa Anda belum “click”. Meskipun usia Anda jauh lebih tua daripada siswa Anda, namun gelombang otak dapat disetarakan dengan melakukan atau seakan-akan melakukan dan berfikir seperti siswa Anda.
Dalam hal ini, Anda wajib mengalah terlebih dahulu. Dalam arti Andalah yang harus menyesuaikan gelombang otak Anda pada siswa Anda. Bukan sebaliknya siswa Anda yang menyesuaikan gelombang otak Anda.
Sama dengan siswa-siswa kita. Jika mereka membenci sesi pengajaran Anda, berarti gelombang otak Anda belum setara dengan mereka. Anda dan para siswa Anda belum “click”. Meskipun usia Anda jauh lebih tua daripada siswa Anda, namun gelombang otak dapat disetarakan dengan melakukan atau seakan-akan melakukan dan berfikir seperti siswa Anda.
Dalam hal ini, Anda wajib mengalah terlebih dahulu. Dalam arti Andalah yang harus menyesuaikan gelombang otak Anda pada siswa Anda. Bukan sebaliknya siswa Anda yang menyesuaikan gelombang otak Anda.
Cara-cara melakukan pacing pada siswa Anda :
- Bayangkan Anda adalah seusia siswa-siswa Anda. Disamping juga melakukan aktivitas dan merasakan hal-hal yang dialami siswa-siswa Anda pada masa SEKARANG. Bukan pada saat Anda masih sekolah dulu.
- Gunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa yang sering digunakan oleh siswa-siswa Anda. Kalau perlu gunakan bahasa gaul yang sedang trend di kalangan siswa-siswa Anda.
- Lakukan gerakan-gerakan dan mimik wajah yang sesuai dengan tema bahasan Anda.
- Sangkutkan tema pelajaran Anda dengan tema-tema yang sedang trend di kalangan siswa-siswa Anda.
- Selalu update pengetahuan Anda tentang tema, bahasa hingga gossip terbaru yang sedang trend di kalangan siswa Anda.
Dengan melakukan hal-hal tersebut, maka tanpa sadar gelombang pikiran Anda telah sama dengan para siswa. Akibatnya adalah siswa-siswa Anda merasa nyaman untuk bertemu dengan Anda.
Jika hal ini telah terjadi, maka bersiaplah untuk melakukan langkah berikutnya.
Jika hal ini telah terjadi, maka bersiaplah untuk melakukan langkah berikutnya.
3. Leading.
Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing Anda lakukan. Jika Anda melakukan leading tanpa didahului dengan pacing, hal itu sama saja dengan memberikan perintah pada siswa Anda dengan resiko siswa Anda melakukannya dengan terpaksa dan tertekan. Hal ini akan berakibat pada penolakan siswa Anda pada diri Anda. Atau lebih kongkritnya adalah siswa Anda akan lebih senang dan gembira ketika Anda menderita sakit sehingga tidak dapat mengajar pada jam Anda. Maukah Anda menjadi guru yang demikian ?? Saya yakin Anda ingin sebaliknya.
Setelah Anda melakukan pacing, maka siswa Anda akan merasa nyaman dengan Anda. Pada saat itulah hampir setiap apapun yang Anda ucapkan atau tugaskan pada siswa Anda, maka siswa Anda akan melakukannya dengan suka rela dan bahagia.
Anda bagaikan kekasih bagi siswa Anda (bukan berarti melibatkan romantisme). Dalam arti, siswa Anda akan selalu menantikan sesi pelajaran Anda. Sesulit apapun materi Anda, maka pikiran bawah sadar siswa Anda akan menangkap materi pelajaran Anda adalah hal yang mudah. Jika siswa Anda yakin bahwa pelajaran Anda adalah mudah, maka sesulit apapun soal ujian yang diujikan, akan ikut menjadi mudah, dan siswa Anda akan dapat meraih prestasi belajar yang gemilang. Menakjubkan bukan ?
Setelah Anda melakukan pacing, maka siswa Anda akan merasa nyaman dengan Anda. Pada saat itulah hampir setiap apapun yang Anda ucapkan atau tugaskan pada siswa Anda, maka siswa Anda akan melakukannya dengan suka rela dan bahagia.
Anda bagaikan kekasih bagi siswa Anda (bukan berarti melibatkan romantisme). Dalam arti, siswa Anda akan selalu menantikan sesi pelajaran Anda. Sesulit apapun materi Anda, maka pikiran bawah sadar siswa Anda akan menangkap materi pelajaran Anda adalah hal yang mudah. Jika siswa Anda yakin bahwa pelajaran Anda adalah mudah, maka sesulit apapun soal ujian yang diujikan, akan ikut menjadi mudah, dan siswa Anda akan dapat meraih prestasi belajar yang gemilang. Menakjubkan bukan ?
4. Gunakan kata positif.
Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Contohnya adalah sebagai berikut, perhatikan kalimat saya berikut ini :
“Bapak – ibu guru sekalian. Saya minta Anda untuk jangan pernah sekali-kali membayangkan kelinci memakai topi. Saya ulangi lagi bahwa Anda tidak diperkenankan sama sekali untuk membayangkan kelinci memakai topi. Karena Anda saat ini benar-benar dilarang keras untuk membayangkan kelinci memakai topi. Sekali lagi saya ingatkan jangan pernah mencoba untuk membayangkan kelinci memakai topi”.
Apa yang terjadi ? Apakah Anda malah sempat membayangkan kelinci yang memakai topi ? Padahal saya telah bilang jangan pernah, tidak diperkenankan, dilarang keras, dan jangan pernah mencoba. Namun yang terjadi adalah Anda semakin membayangkan.
Jika Anda ingin lebih membuktikan hal ini, bacakan kalimat tersebut pada rekan kerja Anda, atau pada siswa Anda. Saya yakin akan banyak sekali yang tertawa terbahak-bahak, karena terbayang betapa lucunya kelinci memakai topi.
Jika Anda ingin lebih membuktikan hal ini, bacakan kalimat tersebut pada rekan kerja Anda, atau pada siswa Anda. Saya yakin akan banyak sekali yang tertawa terbahak-bahak, karena terbayang betapa lucunya kelinci memakai topi.
Itulah yang terjadi pada pikiran bawah sadar manusia, yaitu tidak menerima kata negative. Jika ada kata negative, maka yang diterima adalah kata dibelakang kata negative tersebut. Sedangkan kata negative-nya diabaikan. Misalnya kalimat “jangan ramai”, maka yang ditangkap adalah “ramai”. Maka yang terjadi siswa Anda malah ramai.
Anda bisa lakukan percobaan kecil pada anak yang berusia dibawah 5 tahun. Karena pada usia ini pikiran sadarnya belum terbentuk sempurna. Sehingga masih didominasi oleh pikiran bawah sadar. Ketika anak usia dibawah 5 tahun menangis, coba katakan “jangan nangis”, maka yang terjadi adalah ia menangis semakin keras.
Dalam hal ini, sebaiknya cari padanan kata yang positif. Misalnya “jangan ramai” diganti “tenang” atau “diam”.
Saya yakin Anda, sebagai guru pasti lebih kreatif dalam memilih padanan kata daripada saya.
Anda bisa lakukan percobaan kecil pada anak yang berusia dibawah 5 tahun. Karena pada usia ini pikiran sadarnya belum terbentuk sempurna. Sehingga masih didominasi oleh pikiran bawah sadar. Ketika anak usia dibawah 5 tahun menangis, coba katakan “jangan nangis”, maka yang terjadi adalah ia menangis semakin keras.
Dalam hal ini, sebaiknya cari padanan kata yang positif. Misalnya “jangan ramai” diganti “tenang” atau “diam”.
Saya yakin Anda, sebagai guru pasti lebih kreatif dalam memilih padanan kata daripada saya.
5. Berikan pujian.
Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Maka berikanlah pujian dengan tulus pada siswa Anda. Khususnya ketika ia berhasil melakukan atau mencapai prestasi. Sekecil apapun bentuk prestasinya, tetap berikan pujian. Termasuk ketika ia berhasil melakukan perubahan positif pada dirinya sendiri, meski mungkin masih berada di bawah standart teman-temannya, tetaplah berikan pujian. Dengan pujian, seseorang akan terdorong untuk melakukan yang lebih dari sebelumnya.
Dalam memberikan pujian, hindari pula kata penghubung negative. Misalnya : tapi, namun, cuma saja, dan lain sebagainya. Karena penggunaan kata-kata tersebut akan membuat pujian Anda sia-sia dan terkesan mengolok-olok.
Contohnya kalimat seperti ini :
“Adi, kamu itu anak yang pandai, ibu / bapak seneng sekali punya murid seperti kamu. Tapi sayangnya kamu kurang memperhatikan kerapian pakaianmu”.
Bayangkan jika anda sendiri dipuji orang dengan kalimat seperti itu. Pernahkah Anda dipuji dengan kalimat seperti itu ? Saya yakin pernah. Coba Anda ingat dan rasakan kembali pada saat anda dipuji dengan kalimat seperti itu. Dapatkah Anda rasakan seakan-akan Anda merasa bangga ketika awal kalimat itu diucapkan. Dan kemudian seakan-akan ada perisai besar dan tebal menyelimuti diri Anda, ketika kata “tapi” diucapkan ? Coba bayangkan kembali.
Jika pujian digabungkan dengan kritik atau saran, maka yang lebih tertangkap adalah bentuk penyerangan pada harga diri orang yang di puji. Bukannya meningkatkan harga diri, malah menjatuhkan. Memang ini adalah hal yang sepele dan sering terjadi. Namun efeknya sangat besar dalam system psikologis seseorang.
Contohnya kalimat seperti ini :
“Adi, kamu itu anak yang pandai, ibu / bapak seneng sekali punya murid seperti kamu. Tapi sayangnya kamu kurang memperhatikan kerapian pakaianmu”.
Bayangkan jika anda sendiri dipuji orang dengan kalimat seperti itu. Pernahkah Anda dipuji dengan kalimat seperti itu ? Saya yakin pernah. Coba Anda ingat dan rasakan kembali pada saat anda dipuji dengan kalimat seperti itu. Dapatkah Anda rasakan seakan-akan Anda merasa bangga ketika awal kalimat itu diucapkan. Dan kemudian seakan-akan ada perisai besar dan tebal menyelimuti diri Anda, ketika kata “tapi” diucapkan ? Coba bayangkan kembali.
Jika pujian digabungkan dengan kritik atau saran, maka yang lebih tertangkap adalah bentuk penyerangan pada harga diri orang yang di puji. Bukannya meningkatkan harga diri, malah menjatuhkan. Memang ini adalah hal yang sepele dan sering terjadi. Namun efeknya sangat besar dalam system psikologis seseorang.
Cara untuk menghindari kata penghubung negative adalah dengan menghilangkan kata penghubung tersebut. Misalnya “Kamu sebetulnya adalah siswa yang pandai, sangat membanggakan. Akan lebih membanggakan lagi kalau kamu lebih memperhatikan kerapian penampilanmu”. Dengan demikian perisai pelindung harga diri belum sempat keluar, namun sudah keburu pesan perbaikan (kritik) masuk dalam program bawah sadarnya.
6. Modeling.
Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoteaching. Setelah siswa menjadi nyaman dengan Anda, kemudian dapat Anda arahkan sesuai yang Anda inginkan, dengan modal kalimat-kalimat positif. Maka perlu pula kepercayaan (trust) siswa pada Anda dimantapkan dengan perilaku Anda yang konsisten dengan ucapan dan ajaran Anda. Sehingga Anda selalu menjadi figure yang dipercaya.
Sangat mudah bukan. Metode ini sangat dahsyat jika Anda terapkan pada siswa Anda. Atau jika Anda berkenan, Anda juga dapat menerapkannya pada rekan kerja Anda, istri/suami Anda, putra-putri Anda, orang tua Anda, tetangga Anda.
Sekali lagi saya ingatkan, bahwa metode ini sangat dahsyat mempengaruhi pikiran lawan bicara Anda. Terlebih jika Anda selalu melatihnya setiap saat. Namun jika artikel ini hanya Anda maknai hanya sebagai pengetahuan, maka Anda akan mendapatkan sebuah wacana yang luar biasa.
Akhirnya, saya mengucapkan selamat mencoba metode terdahsyat masa ini. Metode yang dapat membuat siswa Anda menjadi senang bersekolah, dan menjadi insan cerdas yang luar biasa.
Sekali lagi saya ingatkan, bahwa metode ini sangat dahsyat mempengaruhi pikiran lawan bicara Anda. Terlebih jika Anda selalu melatihnya setiap saat. Namun jika artikel ini hanya Anda maknai hanya sebagai pengetahuan, maka Anda akan mendapatkan sebuah wacana yang luar biasa.
Akhirnya, saya mengucapkan selamat mencoba metode terdahsyat masa ini. Metode yang dapat membuat siswa Anda menjadi senang bersekolah, dan menjadi insan cerdas yang luar biasa.
Ditulis oleh :
Oktastika Badai Nirmala, S.Psi, CHt
www.mediasugesti.blogspot.com
mediasugesti@yahoo.com
Oktastika Badai Nirmala, S.Psi, CHt
www.mediasugesti.blogspot.com
mediasugesti@yahoo.com
Label:
artikel pendidikan
17.20
SENAYAN Library Management System; Aplikasi Perpusatakaan Gratis
Written By RUMAH PENDIDIKAN on Minggu, 15 Januari 2012 | 17.20
SENAYAN Library Management System (selanjutnya disebut : SLiMS) merupakan sebuah sistem atau software manajemen perpustakaan. Awal kelahirannya merupakan sebuah tantangan untuk menggantikan software perpustakaan lain dari luar negeri yang telah habis masa sewanya di Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional.
Tantangan tersebut dijawab oleh Hendro Wicaksono yang merupakan Lead Developer SliMS. Seiring berkembangnya kebutuhan perpustakaan maka pihak developer SliMS ini bekerja sama dengan beberapa orang, di antaranya Arie Nugraha, Arif Syamsudin, M. Rasyid Ridho, Sulfan Zayd, Purwoko dan Wardiyono. Kerja sama ini akhirnya membuahkan keputusan untuk melepaskan SLiMS menjadi sebuah software asli Indonesia yang bersifat Open Source. Dengan demikian pengguna SLiMS bebas untuk mendapatkan, mengkopi, memodifikasi dan mendistribusikan atau bahkan mengambil keuntungan dari software ini tanpa menghilangkan sumber utamanya.
Tantangan tersebut dijawab oleh Hendro Wicaksono yang merupakan Lead Developer SliMS. Seiring berkembangnya kebutuhan perpustakaan maka pihak developer SliMS ini bekerja sama dengan beberapa orang, di antaranya Arie Nugraha, Arif Syamsudin, M. Rasyid Ridho, Sulfan Zayd, Purwoko dan Wardiyono. Kerja sama ini akhirnya membuahkan keputusan untuk melepaskan SLiMS menjadi sebuah software asli Indonesia yang bersifat Open Source. Dengan demikian pengguna SLiMS bebas untuk mendapatkan, mengkopi, memodifikasi dan mendistribusikan atau bahkan mengambil keuntungan dari software ini tanpa menghilangkan sumber utamanya.
Senayan adalah perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan (library management system) sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3. Aplikasi ini pertama kali dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional, Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Nasional. Aplikasi Senayan dibangun dengan menggunakan PHP, basis data MySQL, dan pengontrol versi Git. Pada tahun 2009, Senayan mendapat penghargaan tingkat pertama dalam ajang INAICTA 2009 untuk kategori open source.
Ketika dirilis pertama kali, Senayan baru diunduh 704 kali. Angka ini melonjak menjadi 6.000 kali lebih pada Desember 2007 dan 11 ribu lebih Januari 2008. Adapun pada Oktober lalu program itu sudah diunduh hampir 27 ribu kali. Dengan demikian, total sudah 250 ribu kali lebih program itu diunduh. Saat ini SENAYAN telah digunakan luas oleh berbagai perpustakaan, baik di dalam maupun luar negeri.
Ketika dirilis pertama kali, Senayan baru diunduh 704 kali. Angka ini melonjak menjadi 6.000 kali lebih pada Desember 2007 dan 11 ribu lebih Januari 2008. Adapun pada Oktober lalu program itu sudah diunduh hampir 27 ribu kali. Dengan demikian, total sudah 250 ribu kali lebih program itu diunduh. Saat ini SENAYAN telah digunakan luas oleh berbagai perpustakaan, baik di dalam maupun luar negeri.
Untuk mendownlod klik here
Label:
artikel pendidikan
23.07
Mewaspadai Perdagangan Anak
Written By RUMAH PENDIDIKAN on Rabu, 11 Januari 2012 | 23.07
TRAFICKING
1. PENGERTIAN TRAFFICKING
“Trafficking”, mungkin sebuah kata yang sedikit terdengar asing di telinga kita. Namun sebenarnya, kata trafficking sudah terdengar meluas dalam Internasional. Mengapa? Setiap tahunnya diperkirakan 600.000-800.000 laki-laki, perempuan dan anak-anak diperdagangkan menyeberangi perbatasan-perbatasan internasional (dikutip dari : Supriyadi Widodo Eddyono, Perdagangan Manusia Dalam Rencana KUHP,Jakarta 2005,hal pendahuluan).
Label:
artikel pendidikan
19.03
Pengertian Penilaian Berbasis Portofolio
Written By RUMAH PENDIDIKAN on Minggu, 01 Januari 2012 | 19.03
Pengertian Penilaian Berbasis Portofolio
Penilaian itu pada hakekatnya tidak hanya dilakukan sesaat, akan tetapi harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Di samping itu penilaian bukan hanya menilai secara parsial, melainkan menyeluruh, meliputi proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dicapai siswa. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk menentukan nilai rapor siswa, dengan demikian maka seorang guru haruslah melihat dari segala aspek pada diri siswa, yang meliputi dari rata-rata hasil ulangan harian, ulangan umum, tugas-tugas terstruktur, catatan perilaku harian siswa (anecdotal record),
Penilaian itu pada hakekatnya tidak hanya dilakukan sesaat, akan tetapi harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Di samping itu penilaian bukan hanya menilai secara parsial, melainkan menyeluruh, meliputi proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dicapai siswa. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk menentukan nilai rapor siswa, dengan demikian maka seorang guru haruslah melihat dari segala aspek pada diri siswa, yang meliputi dari rata-rata hasil ulangan harian, ulangan umum, tugas-tugas terstruktur, catatan perilaku harian siswa (anecdotal record),
Label:
artikel pendidikan
